Manic Street Preachers : A Journey to my Longlife Idols.

Manic Street Preachers : A Journey to my Longlife Idols.

Di tengah tengah suasana lebaran lalu, sebuah pesan singkat masuk ke handphone saya, isinya mengabarkan Manic Street Preachers, sebuah Band yang saya idolakan; konser di singapura pada tanggal 24 november 2008.
Pesan ini datang dari teman SMA saya yang juga menggemari band ini, Syarinta Kamaranti. Kontan saya langsung meletakan piring ketupat saya, dan serius membalas sms untuk memastikan berita gembira ini, dan langsung browsing ke internet. Ternyata benar!! Mereka melakukan konser ke beberapa Negara di Asia : Singapura, Hongkong dan Bangkok. Bahkan seorang penggemar Manics, yang bekerja di majalah Rolling Stone, Wendi Putranto, langsung merancang sebuah petisi untuk mendatangkan mereka ke Jakarta. Sungguh sebuah perbuatan yang terpuji, bagi kami penggemar Manics. Tapi entah mengapa saya kurang begitu yakin dengan petisi ini, mungkin karena penggemar Manics tidak sebanyak penggemar Oasis atau the Cure di Jakarta. Jadilah saya langsung memutuskan untuk langsung membeli tiket konser yang tersedia di Senayan City dengan bantuan jaringan Sistic. Dan juga memilih jadwal pesawat yang sesuai dengan budget. Terima kasih kepada Aditya Suharmoko atas kecekatannya memesan tiket pesawat yang sesuai budget. Dan teman kuliah saya, Libradi yang bersedia mengucurkan dana pinjam-cicil, serta sang kekasih, Tania Paramita, yang senantiasa memberikan dukungan spiritnya…semoga Tuhan membalas kebaikan mereka.

Menjelang keberangkatan yang semakin dekat, saya mencoba mengajak salah satu partner in crime saya dalam kegiatan menonton pertunjukan musik. Kebetulan juga dia adalah penggemar berat Manics, Anis Suryo namanya. Berbekal rincian biaya yang saya  rancang sedemikian rupa iritnya, saya perlihatkan ke dia, dan akhirnya dia langsung setuju untuk ikut menemani perjalanan saya yang terhitung nekat ini. Berbekal uang yang pas-pasan, akhirnya kami berdua berangkat ke Singapura via Batam. Disana nanti, rencana juga akan bertemu dengan seorang teman lama, Age namanya. Mereka semua sudah sepakat untuk mengikuti rencana saya untuk tidak menginap selama disana. Dan Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya pun datang.

Berangkat pukul 3 pagi dari rumah, disambut dengan hujan deras yang mengakibatkan banjir didepan rumah saya, saya pun terpaksa nyeker menuju taksi yang saya pesan. Setibanya di Blok M, saya bertemu Anis untuk kemudian menuju ke bandara bersama dengan Damri.Pesawat kami terbang pukul 6 pagi Anis baru pertama kali keluar negeri dan ternyata dia tidak bilang kepada keluarganya akan kepergiannya menonton konser manics ini. Dan si Age, adalah mahasiswi yang tengah ujian, dia memesan tiket yang agak siang, setelah selesai ujian langsung bertolak ke bandara dan hanya membawa tas kuliahannya.


Setibanya di Singapura, saya dan anis bertemu dengan seorang pria seumuran, Ferry Rusli, yang datang sendirian dengan keperluan membeli sebuah alat semacam mixer tata lampu panggung di sim lim, daerah bugis. Jadilah kita bertiga menuju tempat itu bersama. Beliau menawarkan menginap bersama, karena kebetulan jadwal pesawat kita sama, sebuah tawaran yang menarik. Kita bertukar nomor telfon dan berpisah disana. Saya dan Anis jalan-jalan di Sungei Road, dan langsung menuju daerah dekat lokasi konser, Orchard road. Disana kami, beristirahat di Masjid Al-Falah, mandi dan Sholat. Senang bisa membersihkan diri sebelum pergi ke Fort Canning Park, tempat Manics konser.

Sebelum ke venue, kami janjian dengan Age di seputaran Lucky Plaza, Orchard, dan
secara kebetulan pula kami bertemu dengan rombongan dari Rolling Stone Indonesia, ada Hasief, Yarra, Milla, dan Adam (Koil). Perjalanan menuju ke venue pun semakin seru, karena kami bersama sama menuju sana. Berangkat ke venue pukul 6.30 petang, kami menuju MRT tujuan Dhobi Ghaut, dan berjalan sedikit ke Fort Canning Park. Di perjalanan menuju FCP, kami agak tersesat dan  akhirnya tiba di lokasi yang masih sepi. Pintu dibuka pukul 7. Disana kami pun bertemu dengan Wendi dan Adi Cumi. Total tim kami bertambah menjadi 9 orang. Tampak pula terlihat Ahmad Dhani dan Mulan menyaksikan pertunjukan ini. Ketika pintu dibuka, hal pertama yang dilakukan adalah menyerbu booth merchandise. Lalu duduk-duduk di halaman luas berisikan panggung berukuran sedang,sekilas mirip panggung-panggung pensi di Jakarta. Dan secara suasana, mirip dengan suasana Bumi Sangkuriang, tempat biasa diadakannya acara-acara musik di Bandung.

Acara dimulai pukul 8 malam, diawali dengan band pembuka Lokal, Vertical Rush. Mereka mangaku fans berat Manics dan senang bisa membuka konser Manics. Setelah 4 lagu dibawakan oleh mereka, akhirnya saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tampak kru sedang mempersiapkan panggung, para penonton sudah tidak sabar lagi menyaksikan penampilan mereka dengan meneriakan: “Manics…Manics..Manics..!!”, lalu tampak sebuah stand mic berbulu-bulu pink diset disisi kanan panggung, tempat Nicky Wire Berdiri, yang semakin membuat penonton tidak sabar. Dan akhirnya, mereka pun naik keatas panggung.Saya pun menarik nafas dalam dan mengucapkan Bismillah. Waktu menunjukan pukul 9 kurang sedikit. James Dean Bradfield, Nicky Wire dan Sean Moore satu persatu menuju posisi. Teriakan penonton pun kontan terdengar, menyemarakan lagu pertama yang langsung dibawakan, Motorcycle Emptiness. Salah satu lagu yang saya tunggu-tunggu langsung dibawakan pertama kali. Membuat saya dan penonton  benyanyi bersama penuh semangat.Diselingi dengan sapaan penonton Singapura, mereka membawakan lagu lagu hits mereka tanpa henti. Di lagu yang ke 3, dengan sedikit berdialog bahasa perancis, mereka membawakan La Tristesse Durera, lalu dilanjutkan dengan Faster, hits single mereka dari album Holy Bible. Sebuah lagu yang sering saya lantunkan ketika jaman saya masih kuliah arsitektur dulu. Lalu ada You Stole the Sun from My heart, dan Everything Must Go, beberapa hits Mereka lainnya yang dimainkan sempurna seperti mendengar CD-nya. Saya pun menyempatkan diri untuk mengabadikannya dengan kamera DSLR saya, yang ternyata sebenarnya tidak diperbolehkan. Saya sempat di senter oleh bodyguard barikade dengan Red Pointer beberapa kali dan saya terpaksa pindah pindah untuk mencari spot yang aman untuk memotret. Tangan saya pun bergetar ketika mendengar lagu lagu yang biasa saya dengar lewat pemutar CD dibawakan langsung didepan saya. You Love Us dan Design For Life, membuat saya tidak konsen memotret dan memilih untuk bernyanyi bersama.

Lalu beberapa saat kemudian, Nicky dan Sean turun panggung, meninggalkan James sendirian diatas panggung bersama gitar akustiknya. Saya mengharapkan lagu Raindrops keep falling on my head atau Last Cristmast yang biasa dicover mereka bawakan, tapi ternyata Small Black Flowers dibawakan sendiri oleh james, dan betapa merindingnya saya ketika The Everlasting dibawakan setelahnya. Lagu ini sebenarnya tidak ada dalam setlist yang telah direncanakan. Your Love Alone is Not Enough kemudian dibawakan, single pertama dari album terbaru mereka ini biasanya dinyanyikan bersama Nina Person, vokalisnya The Cardigans. Tapi kali ini dibawakan mereka, dengan bantuan beberapa Additional players yang juga membantu mereka dari awal konser ini.

Umbrella, Sebuah lagu milik Rihanna yang discover Manics, juga dimainkan. Sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan mereka meng-kover lagu ini, dan seharusnya bisa diganti dengan stay beautiful atau from despair to where. Tapi dengan 20 lagu di setlist yang mereka mainkan malam itu, semua terbayarkan dengan kepuasan. Apalagi di penghujung konser, mereka membawakan lagu yang saya tunggu tunggu, Little Baby Nothing. Dan saya pun mengalungkan kamera saya dan ikut lompat lompat sambil bernyanyi bersama.Sempat terjadi pergantian gitar di awal lagu ini karena ada masalah teknis. Manics akhirnya menutup konser ini dengan 2 lagu terakhirnya, Motown Junk dan If You Tolerate this, your children will be next. Sedih mendengarnya ketika James mengatakan, ini adalah lagu terakhir mereka, dan mereka benar benar menyudahi konser ini dengan  ucapan terima kasih dan kemudian turun dari panggung. Tidak ada Encore, seperti yang diharapkan penonton yang terus menunggu sampai kurang lebih 15 menit. Para kru panggung pun melakukan tugasnya, merapikan panggung dan terus disaksikan oleh penonton yang masih berharap mereka naik panggung kembali.

Saya menyempatkan diri menuju sisi kanan panggung, nekat menaiki panggung dan mengamankan setlist mereka. Kebetulan ada seoarang kru yang baik membantu rencana saya ini. Lalu saya, anis dan age, berlari menuju pintu backstage, berusaha masuk kedalam untuk berfoto bersama, tetapi dihadang oleh bodyguard berbadan besar, yang pulang berkendara Harley. Setelah berupaya keras untuk bisa ketemu mereka, alhasil hanya tanda tangan saja yang bisa didapat, dan itupun hanya dititipkan kepada mereka, dan hanya kami bertiga saja yang berhasil mendapatkannya. Penggemar penggemar lainnya yang dari Malaysia, dan bahkan Korea gagal mendapatkannya. Sungguh kami beruntung malam itu. Dan akhirnya mereka pulang menju hotel di daerah Sentosa, dengan menggunakan Van yang langsung keluar dari backstage, sama sekali tidak ada celah untuk memfotonya. Tapi setidaknya malam itu saya senang, mendapatkan tandatangan, setlist-nya Nicky dan Baju Crew yang desain dan bahannya jauh lebih bagus dari kaos konsernya.
Foto Panggung…

Setelah malam yang begitu menyenangkan itu berakhir, akhirnya kami pulang dengan bersenandung beberapa lirik lagu mereka, dan dihiasi dengan wajah yang gembira. Tapi sayangnya kami pulang tanpa tujuan. Setelah
berpisah dengan tim Rolling Stone, kami mengarah ke Masjid Al-Falah, berharap untuk bisa bermalam atau sekedar membersihkan diri. Tetapi ternyata Masjid disana tidak seperti Masjid di sini yang selalu buka 24 jam. Sempat mencoba menghubungi Ferry,  yang menjanjikan menginap bersama tadi, tapi tidak ada jawaban. Kamipun hanya bisa beristirahat sejenak di pelatarannya dan memilih untuk jalan jalan ke Mustafa, sebuah pusat perbelanjaan India yang buka 24 jam. Disana kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh secukupnya, dan kemudian duduk-duduk di depannya, mengisi perut dan beristirahat sejenak. Waktu menunjukan pukul 4 pagi, situasi disana semakin tidak kondusif, terlihat banyak waria yang berlalu lalang, dan beberapa pemuda india yang selalu melihat-lihat ke barang barang kami. Dua teman saya tak kuasa menahan lelah dan tertidur di meja tempat kami makan tadi. Saya pun sebenarnya lelah, tapi berusaha untuk tidak tidur, menjaga barang barang bawaan. Pukul 5 pagi akhirnya kita memilih untuk pindah ke pintu masuk Stasiun MRT terdekat. MRT baru beroperasi pukul 6, dan kami mencoba menunggu MRT dan berencana ke sebuah Apartemen milik saudara jauhnya Age yang sudah dicoba telfon tapi tidak diangkat ; kemungkinan sudah tidur. Konon, saudaranya ini adalah seorang Nanny, pengasuh jompo dan anak bayi milik pasangan gay. Age mencoba menelfonnya kembali, dan akhirnya diangkat, jam sudah menunjukan pukul 5.30 pagi dan akhirnya kita langsung memilih naik taksi dan menuju lokasi yang sudah diketahui alamatnya ini. Sampailah kami disana dan langsung meniduri sofa yang tampak empuk. Kami beristirahat dan mandi disana sampai pukul 9, dan melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat. Mampir ke Roxy records store, di bilangan Peninsula, saya mendapatkan 7” Manics, Your love alone is not enough, sebuah penemuan yang menarik . Ditambah adanya Year end Sale 30% untuk beberapa item, termasuk vinyl ini. Menyenangkan!, lalu kami menyempatkan diri berfoto di Merlion, dan Borders, dan kemudian kembali menuju Harbour Front untuk kembali Ke Batam dan terbang Ke Jakarta. Sempat diwarnai dengan perasaan was-was, karena telat dari jadwal kapal yang kami incar, tetapi Alhamdulillah kami berhasil mencapai bandara Hang Nadim sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

Sebuah pengalaman yang menarik, ketika kita berangkat menuju sesuatu yang kita idamkan, dan dengan berbagai suka duka yang menghiasinya. Terima kasih  Manic Street Preachers untuk kunjungannya ke Singapura, walaupun tidak sempat mampir ke Jakarta karena alasan Kontrak Kru yang tidak diperpanjang, dan Seorang Promotor yang tidak berani mendatangkan
mereka karena alasan takut hujan.

Everything Must Go!

Advertisements

28 thoughts on “Manic Street Preachers : A Journey to my Longlife Idols.

  1. sebagai Die Hard fans nya Manic lo beruntung banget Sat……… begitu juga dengan gue pas nonton MONO hehehe……kalap.com sampe minjem2 duit buat beli Merch nya…..hehehe

  2. waaahhhhh sukses juga lo dgn kenekatan…pengalaman yg ngga bakal lo lupain tuhhh plus kepuasan batin bisa nonton band idola,gw tau rasanya tapi gw ngga senekat elo…eeehhhh belum senekat elo 🙂

  3. mas..hehe *sok kenal
    gw baru tertarik nih sama LOMO,lg cri info ttg lomo
    nah gw mw bli lomo yg cocok bwt pemula kya gw kira” apa|?
    gw interes sama Diana yg flash,,
    klo mw edit hsl foto gmn caranya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s