Lebaran di Fuji Rock Festival 2014 (Rolling Stone Indonesia – September 2014)

Salah satu Festival Musik tahunan Jepang, Fuji Rock Festival kembali digelar. Festival yang selalu menjadi perhatian pecinta musik di Jepang dan luar Jepang ini diadakan selama 3 hari dari Jum’at 25 Juli sampai 27 Juli 2014. Festival ini diadakan di Resor Ski Naeba, di daerah Yuzawa-machi, Niigata, tepatnya sehari sebelum Lebaran. Para FujiRockers, sudah mulai berdatangan dari Kamis malam, dengan menempuh perjalanan 190 km kearah utara Kota Tokyo. Setiba di Stasiun Echigo Yuzawa, mereka langsung diantar jemput dengan shuttle bis yang disediakan gratis oleh panitia FRF.

Sama seperti tahun lalu, Promotor acara, Smash Japan, mengemas Festival ini dengan baik dengan berbagai fasilitas penunjang yang memadai. Dari segi layout sampai ke posisi panggung, sama persis dengan tahun lalu. Yang berbeda mungkin hanya daftar pengisi acaranya saja. Line up tahun ini diisi oleh band-band yang sarat dengan aksi panggung yang megah, seperti The Flaming Lips dan Arcade Fire. Lalu sederet band band keren lainya seperti Manic Street Preachers, Outkast, Basement Jaxx, Franz Ferdinand. Penyanyi seperti Lorde, Jack Johnson dan Damon Albarn juga menjadi bagian dari Line Up Festival ini. Sebenarnya masih banyak band- band keren lainnya yang kalau disebutkan, buat saya menyesal karena tidak sempat menyaksikannya satu persatu. Tapi di Fuji Rock tahun ini saya sempat menyaksikan band-band ‘pendukung’ seperti The Pains of Being Pure at Heart, Travis, Foster the People, The Skatalites, St.Vincent, Slowdive, OK GO, Wild Beast dan John Butler Trio.

Ok, saya tiba di Venue pada hari Jum’at (25/7) pagi. Cuaca hari itu cukup panas, tapi udaranya bersahabat untuk ber-festival. Setelah selesai membangun tenda, saya berangkat menuju venue yang letaknya 500m dari Camp Site. Band pertama yang disaksikan hari itu adalah Wild Beast di White Stage. Panggung ini berjarak 300 meter dari panggung utama FRF, Green Stage. Lalu setelahnya, saya langsung menuju Slowdive di Red Marquee stage. Panggung yang berukuran kecil dan indoor ini sudah dipenuhi oleh penikmat musik Shoegaze khas Slowdive. Band Inggris yang baru saja reuni ini, tampil mengesankan dengan setlist singkat tapi memuaskan. Selesai Slowdive, saya langsung ke Green Stage untuk menyaksikan Foster The People dan Bombay Bicycle Club di Red Marquee. Karena kondisi badan yang kurang fit pada hari itu saya memutuskan untuk pulang ke tenda, beristirahat untuk Band band keren keesokan harinya.

Sabtu (26/7), masih dengan matahari yang terik, saya memulai hari dengan menyaksikan beberapa band yang saya penasaran livenya. Ada White Lung di White Stage, Lalu Travis di Green Stage, dan St.Vincent di Red Marquee. Travis menghibur penonton dengan membawakan hits mereka seperti Sing, Closer dan ditutup dengan Why Does it always Rain on me. Sambil menunggu Arcade Fire dan Manic Street Preachers malam itu, saya menyempatkan nonton Damon Albarn. Pentolan Blur dan Gorillaz ini ternyata punya musik yang asik untuk disaksikan di panggung sebesar Green Stage. Dengan membawa kelompok choir dan berkolaborasi dengan rapper Jepang membawakan lagu Gorillaz, Clint Eastwood. Pada lagu Photograph, Damon bercerita kalau lagu ini terinspirasi dari rakyat Jepang yang gemar memotret. Dia juga membawakan lagu ‘End of Century’nya Blur.

Setelahnya, saya menyaksikan band yang disebut sebut sebagai band yang mempunyai stage act yang mengagumkan, Arcade Fire. Benar saja, dari dekorasi panggung yang mewah, dan gimmick yang mengejutkan. Mereka membuka set dengan lagu hits terbaru mereka, Reflektor. Hanya berhasil menyaksikan 3 lagu, saya bergegas pindah ke White Stage, melewati jalan hutan yang penuh orang lalu lalang. Di White Stage sudah terlihat Banner besar bergambar Kover terbaru album Manic Street Preachers, Futurology. Salah satu tujuan saya datang ke FRF’14 ini adalah menyaksikan penampilan mereka. Manic memulai setnya 20 menit setelah Arcade Fire memulai set-nya di Green Stage, membuat saya berpikir kera untuk memilih mana yang menjadi prioritas.

James Dean Breadfield dan Nicky Wire, tampil bersama 3 additional player malam itu, membawakan 19 lagu dari berbagai Album mereka, seperti Motorcycle Emptiness, sebagai lagu pembuka, Everything Must Go, The Everlasting, lalu lagu-lagu dari album baru mereka seperti Futurology, Walk me to the Bridge, Show Me the Wonder sampai ke yang jarang dibawakan seperti P.C.P dan Suicide is Painless. Penampilan mereka malam itu tergolong sederhana dibandingkan penampilan mereka sebelumnya yang saya saksikan di Fort Canning Park, Singapura 2008 silam.

Di Hari terakhir, Minggu (27/7), cuacanya agak berbeda, dengan kabut tebal menyelimuti sekitar venue, Hari itu dihiasi dengan hujan kecil sampai malam. Para FujiRockers pun banyak yang menggunakan jas hujan dan jaket tebal untuk mengatasi cuaca hari itu. Saya memulai hari dengan berjalan ke sebuah panggung yang kurang terekspose dengan baik, karena memang terletak di areal terpencil di ujung camp site. Pyramid Garden Stage, sebuah stage kecil yang sangat humble, mengingat musik yang disajikan juga merakyat dan dekat dengan penonton. Mereka menyaksikannya sambil duduk dan menghangatkan badan mengelilingi api unggun.

Siangnya, saya langsung menuju panggung John Butler Trio di Green Stage. Tampil ditemani hujan rintik, John Butler menghibur penonton dengan lagu lagu andalannya seperti Zebra dan Better Than. Lalu setelahnya saya menuju Red Marquee, ada OK GO yang tampil atraktif disana, dengan permainan konfeti dan aksi turun panggung. Setelah OK GO, salah satu band yang saya tunggu juga, The Pains of Being Pure at Heart yang tampil. Kip Berman, sang vokalis tampil enerjik bersama rekan-rekan sebandnya dengan beberapa personil baru. Membawakan lagu Belong, Come Saturday, Everything With You dari album lama dan beberapa lagu baru seperti Simple and Sure dan Coral and Gold. Saya menyempatkan bertemu Kip Berman setelah penampilannya.

Beristirahat sejenak di areal Food Court, karena ternyata 3 hari mengililingi area Fuji Rock Festival ini cukup menguras tenaga. Di Areal Food Court yang terletak di sekitar pepohonan yang rindang dan dekat dengan Red Marquee stage ini, kita akan menemui berbagai macam jenis makanan dari seluruh dunia .Dan semuanya tertib mengantri di setiap booth makanan yang mereka inginkan. Sebuah pemandangan yang cukup jarang ditemui di Negara kita. Termasuk penanganan sampah yang cukup serius, dimana para FujiRockers harus memilah sampah dengan baik. Seperti memisahkan antara botol plastik dan tutupnya, lalu sumpit dan piring plastiknya. sangat detail.

Setelah cukup beristirahat, saya kembali ber-festival. Sambil menunggu The Flaming Lips yang akan tampil di Green Stage, saya jalan-jalan ke Panggung Field Of Heaven, yang letaknya sekitar 800m dari Green Stage. Disana ada band idola saya waktu SMA, The Skatalites. Di panggung yang bernuansa hippie ini, kita seperti berada di tengah-tengah hutan karena memang dikelilingi oleh pohon tinggi yang lebat. The Skatalites sukses menghangatkan situasi dan penonton pun berpogo bersama. Ditengah penampilan mereka, saya terpaksa berlari ke Green Stage untuk menyaksikan The Flaming Lips yang berselang hanya 20 menit dari The Skatalites. Sangat disayangkan memang, banyak penampilan yang saya harus lewatkan dan tidak disaksikan sampai habis karena jadwalnya yang banyak bertabrakan.

Sampai di panggung Green Stage, saya dikagetkan dengan panggun dekoratif The Flaming Lips, berbeda dengan panggung-panggung sebelumnya di Green Stage. Berlatar belakang balon-balon chrome dan banyak ornamen seperti taman bermain anak-anak. Pentolan The Flaming Lips, Wayne Coyne, memang selalu serius menggarap panggung mereka termasuk tahap pengecekan kesiapan panggung dan alat alat, dilakukan sendiri sebelum band ini benar-benar tampil. The Flaming Lips membuka set-nya dengan megah. Penonton yang tidak sabar menunggu penampilannya, langsung disuguhkan dengan euphoria Festive lagu The Abandoned Hospital Ship. Mereka selalu menggarap detail stage act di setiap lagu yang mereka bawakan. Dan seperti biasa, di bagian terakhir setlist, Wayne Coyne ‘mendatangi’ penonton dengan masuk kedalam Giant Ball-nya dan berkeliling diatas kerumunan penonton. The Flaming Lips sukses menghibur penonton malam itu dengan membawakan 12 lagu. Di akhir penampilannya, Wayne Coyne melakukan aksi membagi-bagikan balon dekor chrome yang menghiasi panggungnya malam itu dan saya berhasil membawa pulang salah satunya.

Setelah bersenang senang dengan The Flaming Lips, saya mengakhiri malam itu dengan menyaksikan Jack Johnson di panggung Green Stage. Sementara di Panggung White Stage ada Outkast, saya memilih menyaksikan vokalis yang dulunya surfer ini. Penonton dimanjakan dengan 22 lagu favorit mereka, termasuk beberapa lagu kover seperti lagu-nya Ramones yang I Wanna Be your Boyfriend dan Who Do You Love?-nya Bo Diddley. Suasana malam itu juga semakin romantis, karena hujan rintik kembali turun, menemani indahnya suara Jack Johnson. Setelah selesai, saya kembali berjalan ke tenda dengan membawa banyak cerita manis yang mungkin tidak bisa saya ceritakan satu persatu. Di pintu keluar, terpampang tulisan..See You at the next Fuji Rock Festival, 24, 25, 26 Juli 2015 dan saya pun bersiap-siap menyambut hari Lebaran di kota Tokyo.

DSCF2017 DSCF2005DSCF2031 DSCF2041 DSCF2075 DSCF2084DSCF2491DSCF2465DSCF2393DSCF2313DSCF2473DSCF2533DSCF2339DSCF2344IMG_6038IMG_6513IMG_6396IMG_6765IMG_6659IMG_7155IMG_7126IMG_7401

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s