Mencicipi Euphoria Fuji Rock Festival 2013

RS-FRF

Event tahunan Jepang, Fuji Rock Festival kembali diadakan di Naeba Ski Resort, Niigata, Yuzawa. Lokasinya berada di sekitar 190 kilometer utara Tokyo yang bisa ditempuh dengan kereta dari Tokyo menuju stasiun terdekat lokasi, Echigo-Yuzawa. Dari stasiun ini, panitia menyediakan Shuttle bus gratis selama acara berlangsung. Smash Japan, yang menjadi promotor Festival ini sejak awal, menangani Festival ini dengan baik dan sudah tidak perlu diragukan kualitasnya.

Tiba di Venue, para FujiRockers, sebutan penonton Fuji Rock terlihat mengantri rapi didepan booth pengambilan wristband sebagai tanda masuk ke venue. Juga terlihat antrian di depan booth Official Merchandise. Semuanya berlangsung teratur. Mereka yang sudah membeli tiket dengan fasilitas Camp Site, malah sudah datang sejak sehari sebelumnya, untuk memilih lokasi yang nyaman dan membangun tenda disana. Terlihat dari jauh, campsite yang sudah penuh terisi sampai atas bukit.

Acaranya sendiri dimulai dari jam 10 pagi di hari pertama, Jum’at, 26 Juli 2013.  Terdapat 5 Panggung utama dan beberapa panggung kecil yang menampilkan lebih dari 250 performer selama 3 hari. Headline yang ditawarkan tahun ini adalah The Cure, The XX, Nine Inch Nails, Bjork, sampai ke My Bloody Valentine, Vampire Weekend, FOALS dan Skrillex.

Penampilan pertama yang disaksikan adalah FUN, band asal Amerika yang sedang naik daun sejak rilisnya album mereka yang bertajuk Some Night. Tampil kasual, vokalis Nate Ruess dan kawan-kawan membawakan hits-hits mereka, seperti Some Nights dan Carry on. Penonton pun berhasil dibuat bernyanyi bersama pada lagu We Are Young, hits yang terpilih sebagai Song of The Year pada 55th Grammy Awards lalu.

Sementara itu di panggung Red Marquee, band Indie Rock Amerika, Local Natives, sedang mengguncang satu-satunya panggung Indoor di Fuji Rock Festival ini. Mereka membawakan hampir semua single terbaiknya, mulai dari Wide Eyes, Camera Talks, dan Sun Hands yang menjadi penutup penampilan mereka.

Tampil setelahnya di Green Stage, My Bloody Valentine, band Shoegaze legendaris asal Irlandia yang menurut saya ditampilkan terlalu awal pada line up hari itu. Tampak Kevin Shields dan Bilinda Butcher masuk ke panggung lebih dulu, melakukan persiapan didepan backdrop besar bergambarkan cover album terbaru mereka, dengan nuansa ungu ke biru-biruan. Debbie Googe, sang basis yang sempat membantu Primal Scream, masuk belakangan bersama Drumer Colm O Ciosoig. Tanpa banyak bicara, antusiasme penonton disambut dengan lagu pertama, I Only Said. Dibawah cuaca mendung, penampilan mbv antara lain dilanjutkan dengan When You Sleep, Only Tomorrow, To Here Knows When, Wonder 2, dan terakhir dengan You Made Me Realise, yang ditutup dengan turunnya hujan deras yang mengguyur area Green Stage. Sayangnya, kendala teknis kerap mengganggu penampilan mereka. Sound pada vocal Shields dan Butcher yang tidak terlalu maksimal terdengar dari sisi penonton, seperti mendengarkan lagu-lagu MBV versi Karaoke. Bahkan pada akhir salah satu lagu Shields pun sempat mengatakan “that was one f*cked up version!”.

Malamnya panggung Green Stage kembali dihibur oleh salah satu Headliner, Nine Inch Nails. Pertunjukan dimulai dengan panggung yang hanya diisi oleh Trent Reznor beserta mesin samplingnya sambil membawakan lagu Copy of A. Lalu satu persatu personil lain beserta alatnya masing-masing mengisi panggung. Selama kurang lebih 1,5 jam NIN membawakan 21 lagu dengan tata lampu dan visual yang luar biasa sepanjang konser. Permainan Strobe Light yang diarahkan ke background 5 layar besar, menghasilkan bayangan raksasa masing-masing personil. Hujan kecil tidak  mempengaruhi semangat penonton yang antusias menyambut NIN sejak penampilan terakhir mereka tahun 2009 lalu. Set mereka ditutup dengan lagu Head Like a Hole dan Hurt.

Pada hari kedua, curah hujan yang tinggi cukup mengganggu perpindahan penonton antar stage. Di panggung Field of Heaven yang terletak ditengah hutan, ada Shugo Tokumaru, seorang penyanyi multi-tasking asal Jepang yang baru saja menyelesaikan Tur-nya di Amerika. Shugo menghibur penonton dengan bunyi-bunyian yang unik dari toys yang dimainkan bernuansa Indiepop.  Suasana Panggung Field of Heaven dan sekitarnya yang bertema trippy, sangat cocok untuk mendengarkan lagu-lagu yang dibawakan Shugo, yang mayoritas lagu dari album terakhirnya, In Focus?.

Kembali ke Green Stage, giliran FOALS menghibur penonton dibawah hujan yang tidak juga berhenti sampai akhir penampilan mereka. Membawakan 11 beberapa lagu dari album terbarunya Holy Fire, seperti Inhaler, My Number dan Late Night. Vokalis mereka, Yannis Philippakis, merasa senang karena dapat diundang kembali untuk yang ketiga kalinya di Fuji Rock Festival. Setelah sebelumnya tampil pada tahun 2008 dan 2010. Tidak lupa, mereka membawakan lagu-lagu hits dari album pertamanya, Antidotes, seperti Red Sock Pugie dan Olympic Airways.

Satu jam menjelang penampilan Bjork, FujiRockers sudah meramaikan Green Stage untuk menyaksikan salah satu headliners yang paling ditunggu hari itu. Seperti biasa, penampilan penyanyi Isladia ini dilengkapi dengan seperangkat ornamen panggung, misalnya alat yang bentuknya seperti kulintang dan sebuah kerangkeng besar yang tergantung diatas panggung, memancarkan aliran listrik sepanjang lagu Thunderbolt. Penonton harus membagi konsentrasi antara menyaksikan Bjork yang dibalut kostum balon dan wig berwarna biru, para choir-nya dengan kostum metalik dan gerakan atraktif, serta visual pada sisi kanan kiri belakang panggung yang cukup menarik perhatian.

Sebanyak 16 lagu plus 2 encore dibawakan malam itu, antara lain Cristalline, Hidden Place, Hyperballad, dan Army of Me. Lucunya, disetiap jeda lagu, Bjork selalu mengucap “Arigatoo!” dengan nada antusias sampai membuat penonton tertawa.

Sebelum kembali ke tenda, saya mengakhiri hari kedua dengan mengunjungi White Stage untuk menyaksikan Jurassic 5. Band Hip Hop lawas dari Amerika yang dengan energinya sanggup membuat penonton bergoyang kencang.

Pada hari terakhir, Minggu 28 Juli, cukup banyak penampil yang disaksikan, didukung dengan cuaca cerah setelah hujan deras pada hari sebelumnya. Pada daftar pertama, di Green Stage ada Yo La Tengo yang beranggotakan pasangan suami istri Ira Kaplan dan Georgia Hubley serta James McNew pada bas. Dapat dibilang YLT tampil dengan tata panggung paling sederhana hari itu. Kaplan kerap bermain gitar sementara Hubley dan McNew bergonta ganti posisi antara drum-keyboard-gitar. Bahkan Hubley pun sempat berperan sebagai vokalis pada lagu Before We Run. Di akhir set yang hanya diisi 8 lagu ini, Kaplan menunjukkan ‘seninya’ dalam bermain gitar. Dia juga sempat bercanda, mengucapkan terimakasih kepada Fuji Rock karena telah mengundang band ‘muda’ seperti mereka, mengingat sudah hampir 30 tahun YLT berkiprah di musik. YLT menutup penampilan mereka dengan lagu hits Pass the Hatchet dan I Think I’m Goodkind. Ini ada penampilan Yo La Tengo yang kedua di Fuji Rock Festival.

Sementara di tempat lain, Daughter mengisi panggung Red Marquee pada siang itu.  Trio London ini tampil sederhana dan dingin, membawakan lagu-lagu dari satu satunya album yang mereka rilis bersama 4AD, If You Leave. Tampil setelahnya adalah HAIM, band baru yang cukup menjanjikan asal Los Angeles, Amerika. Tiga dara yang baru saja merilis LP mereka ini,  berhasil menaikkan energi pada Red Marquee stage yang diterpa hujan cukup deras. Mereka membawakan beberapa nomor dari EP mereka, antara lain Forever, Better Off, dan yang paling berhasil membuat penonton mengikuti irama, Falling. Seperti pada penampilan-penampilan mereka sebelumnya, pada pertengahan setlist sang basis Este Haim, mendadak meneriakkan ‘excuse us while we jam!‘ Serempak mereka disertai drummer Dash Hutton. melakukan jam session singkat yang berhasil memeriahkan suasana. The Wire pun, yang akan menjadi single dari album pertama mereka yang akan dirilis September mendatang juga dibawakan.

Setelah puas di Panggung Red Marquee, saya berkeliling sejenak sambil menunggu penampilan berikutnya di Green Stage, Mumford & Sons. Sekitar jam 5 sore, Mumford & Sons mengisi panggung dengan latar belakang ilustrasi pegunungan. Marcus Mumford, sang pentolan, memulai dengan lagu Babel, sambil bermain gitar dan kick drum secara bersamaan. Lagu hits lainnya seperti The Cave, Roll Away Your Stone dan I Will Wait termasuk di 12 lagu yang tercatat di setlist mereka. Di Lagu Lover of the Light, Marcus yang mengawali karirnya sebagai drummer Laura Marling, menunjukkan kemampuan multi-taskingnya dengan bermain drum sambil bernyanyi. Pada lagu Awake My Soul, Marcus mengundang semua personil HAIM untuk melakukan kolaborasi yang padu.

Selesai dihibur Mumford & Sons, saya kembali mampir ke Red Marquee untuk menyaksikan Tahiti 80. Sayangnya mereka sudah diakhir pertunjukannya dan hanya menyisakan 1 lagu terakhir. Saya langsung bergegas kembali ke Green Stage untuk menyaksikan Vampire Weekend. Panggung berlatar motif bunga menghiasi penampilan mereka. Lagu Cousins dipilih sebagai pembuka pada malam itu, berhasil mengajak penonton berjingkrak. Ezra Koenig sempat menyapa penonton dengan bahasa Jepang dan disambut hangat oleh mereka. Selanjutnya, lagu lagu wajib mereka bawakan, seperti Hochata, Oxford Comma dan Walcott. Senar gitar Ezra yang sempat putus pada lagu Obvious Bicycle pun tidak mempengaruhi penampilan enerjik Vampire Weekend malam itu.

Menjelang akhir set Vampire Weekend, saya meninggalkan Green Stage dan menuju White Stage untuk melihat Cat Power. Penyanyi Amerika yang bernama asli Charlyn Marie Marshall ini, tampil dengan rambut pendek dan jaket kulit. Chan (panggllan akrab Charlyn) bernyanyi dengan menggunakan dua Microphone.

Sampailah saya di penghujung acara, yang menyisakan dua Headliner yang bermain pada waktu yang bersamaan, The Cure di Green Stage dan The XX di White Stage. The Cure membuka penampilannya dengan stage fog yang tebal dan penonton pun dibuat histeris dengan backsound intro Plainsong dari album Disintregation. Lalu dari sisi kiri sosok Robert Smith, samar terlihat memasuki tengah panggung sambil membawa gitar. Tidak banyak bicara, Robert Smith melanjutkannya dengan membawakan lagu-lagu unggulan dari koleksi albumnya seperti Pictures of You, Lullabies, Lovesong, Inbetween Days, Just Like Heaven, dan Friday I’m in Love. Penonton dilarutkan dengan memori lama dan bernyanyi massal didepan idola mereka.

Melihat di Jadwal acara The Cure yang bermain selama 2,5 jam, saya pun memutuskan untuk mengambil break dari The Cure dan menyempatkan diri mampir sejenak ke White Stage untuk The XX.

Di Panggung White Stage, The XX sudah memasuki pertengahan setlistnya. Penonton disuguhkan dengan latar panggung sederhana dengan 4 sorot lampu horizontal. Pada lagu-lagu berikutnya, panggung pun mulai dihiasi dengan cahaya lampu yang menyorot kearah penonton, menyilang menyerupai huruf X. Jamie Smith, atau biasa disebut Jamie XX berdiri diatas level yang berbeda dengan Oliver Sim dan Romy Madley Croft. Ketiganya tampil kompak dengan busana hitam malam itu. Sayangnya, beberapa lagu seperti VCR, Swept Away, Night Time dan lagu kover JamieXX, Far Nearer saja yang sempat saya saksikan karena tidak ingin melewatkan klimaks dari penampilan The Cure.

Kembali ke Green Stage, The Cure sedang membawakan lagu The Hungry Ghost, dari album terakhirnya 4:13 Dream. Lalu setelah lagu Distregation berakhir, mereka mengucapkan terimakasih dan meninggalkan panggung seraya mengakhiri penampilan mereka. Yakin akan adanya encore, penonton kerap memanggil kembali para personil, dan Robert Smith pun kembali muncul, dan mengatakan, “this is our encore.”

Penonton pun berebutan meneriakan lagu lagu favorit mereka yang belum dibawakan dari awal set mereka. Saya sendiri pun masih menunggu lagu Close To Me dan Boys Don’t Cry yang katanya belum dibawakan ketika saya tinggalkan. Dan beruntungnya saya, mereka pun membawakan kedua lagu itu ditambah 8 lagu encore lainnya seperti Let’s go to Bed dan Why I Cant be You.

The Cure akhirnya menutup penampilan mereka dengan lagu Killing an Arab. Penonton pun dibuat kagum dengan stamina mereka yang telah membawakan 36 lagu selama lebih dari 3 jam, yang menutup Fuji Rock Festival tahun ini dengan memuaskan.

Sampai Jumpa di Fuji Rock Festival tahun depan, Tabik!

Campsitecampsite

Merch Booth

Merchandise Booth

FRF gate

FRF Gate

Crowds

Crowds

Crowds

fun. crowds
fun.

fun.Local Natives

local natives

Local Natives

Local Natives
My Bloody Valentine My Bloody Valentine MBV My Bloody Valentine

 

 

 

                       

My Bloody Valentine
NIN

Nine Inch NailsTo Field of Heaven

Foals Foals

Foals

Bjork Bjork Bjork

BjorkJurrasic 5

Jurrasic5Green Stage Yo La Tengo

Yo La tengo

Daughter Daughter

Daughter

HAIM HAIM

Haim

To White Stage Mumford & Sons Mumford & Sons Mumford & Sons Feat. Haim

Mumford & Sons

Tahiti80

Tahiti 80

Vampire Weekend Vampire Weekend

Vampire Weekend

Cat Power

Cat Power

Robert Smith The Cure The Cure The Cure

The Cure

The XX The XX

The XX

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s